Kunjungan Silaturahmi dengan JKI Rhein-Main
14. Juli 2018
0

Indonesisch-muslimische Gemeinde (MMI) telah mengunjungi salah satu organisasi partner utamanya, yatu JKI Rhein-Main di Saalgasse 15 pada hari Selasa 26 Juni 2018 lalu. Hadir dalam kesempatan tersebut Bapak Sumardji Kartasentana dan Tito Prabowo dari Indonesisch-muslimische Gemeinde dan Ibu Pendeta Junita Rondonuwu-Lasut, Jens Balondo dan Frank Mardikan sebagai tuan rumah JKI Rhein-Main.

Kunjungan tersebut merupakan agenda rutin dalam kerangka hubungan kerjasama antara kedua organisasi. Kerjasama antara kedua organisasi ini sesungguhnya sudah terbangun bahkan sebelum berdiri sebagai organisasi resmi di Jerman, yaitu sejak generasi pertama hadir di Jerman.

Kini hubungan baik tersebut dilanjutkan oleh generasi kedua dalam bentuk program dan kegiatan. Salah satu kegiatan yang mendapatkan banyak apresiasi adalah “Indonesian Care Day” bagi para pengungsi di Jerman di tahun 2016 yang lalu.

Kerjasama menjadi penting sebagai manifestasi karakter dan budaya bangsa Indonesia yang beragam namun satu, termasuk juga agama. Karakter menjaga persatuan dan hubungan baik yang turun-temurun diwariskan dari generasi ke generasi di Indonesia merupakan khasanah kekayaan bangsa Indonesia. Dan kerjasama ini merupakan salah satu bentuk kontribusi untuk melestarikan budaya persatuan tersebut walaupun kami jauh dari tanah air.

Dan secara lokal, yaitu lingkup Frankfurt misalnya, kerjasama dan hubungan baik ini juga tidak kalah penting, khususnya dalam konteks Islam dan Kristen dan dalam konteks sosial, ketika kian berkembangnya sentimen anti orang asing dan Islam di tengah masyarakat Jerman.

Ada beberapa poin penting dalam membangun dan merawat dialog dan hubungan baik ini:

  • Proses dialog mesti berlangsung secara setara.
  • Kedua pihak harus menunjukkan identitas yang jelas, terbuka dan jujur.
  • Dialog mesti dilaksanakan berdasarkan kesamaan bahasa dan kebudayaan. Pada konteks ini saling menghormati sangatlah berarti.
  • Dalam dialog, kedua belah pihak bisa menggunakan kesempatan tersebut untuk menemukan persamaan dan menentukan posisi dan sikap bersama pada hal-hal yang disepakati.
  • Perbedaan tidak disingkirkan, melainkan dikomunikasikan dalam bingkai persatuan dan persaudaraan. Kedua belah pihak tidak selalu harus setuju.
  • Tujuan dari dialog adalah untuk merawat rasa saling percaya, saling belajar satu sama lain, mengklarifikasi kesalahpahaman dalam membangun pemahaman bersama dan untuk bisa bekerjasama.

Dengan ini diharapkan dan diupayakan hubungan kerjasama yang baik dan tukar menukar pengalaman, sehingga membuat kedua organisasi menajdi semakin dekat dan erat, sehingga dapat menghasilkan manfaat dan pelayanan kepada orang-orang yang membutuhkan bantuan.