Liputan: Indonesian Care Day
3. Agustus 2016
1

Indonesian Care Day – sebuah Pilot Program – yang di inisiasi oleh Masjid Indonesia dan Jemaat Kristen Indonesia yang berada di kota Frankfurt, Jerman. Bentuk acaranya yaitu berbagi bersama saudara-saudara imigran yang berasal dari negara konflik. Mengenalkan budaya Indonesia melalui tarian Ngarojeng dan Saman. Serta berbagi pengalaman bagaimana berintegrasi di Jerman, pengalaman memulai hidup di Jerman dan bagaimana bisa mudah belajar bahasa Jerman.

Acara ini dihadiri oleh 140 saudara pengungsi yang berasal dari Afghanistan, Suriah, Irak, Eritrea, Somalia, dan Iran. Juga dihadiri oleh beberapa anggota Deutsches Rotes Kreuz mewakili pengelola asrama pengungsi di Frankfurt.

icd2Antusiasme para imigran ini sangat tinggi. Terlihat ketika mereka fokus menikmati acara dan hiburan berupa tarian tradisional Indonesia, bertepuk tangan meriah ketika pertunjukan selesai. Bahkan ada salah satu imigran yang memberanikan diri naik ke panggung dan menyampaikan beberapa kalimat kepada kami.

“Terimakasih kepada teman-teman dari Indonesia yang sudah membuat acara ini untuk kami. Kita semua sama-sama kesini sebagai pendatang. Namun ada perbedaan yang sangat besar antara kita. Kalian datang ke sini untuk sekolah, mencari ilmu dan bekerja. Tapi kami datang kesini sebagai pengungsi. Kami rasa ada kesulitan besar yang harus kami hadapi. Namun ternyata setiap orang memiliki kesulitan masing-masing ketika datang kesini.”
 
Puncak acara diisi dengan makan sore bersama. Lucunya ada beberapa saudara kami ini yang merasa hidangan makanan kami terlalu pedas, namun banyak juga yang meminta sambal dengan porsi istimewa. Kepuasan kami sebagai panitia terlihat ketika banyak yang menambah makan sampai berulang kali.

Semoga acara Indonesian Care Day ini sedikitnya bisa memotivasi saudara kita ini untuk bisa terus tersenyum dalam keadaan apapun. Meredakan trauma pada diri mereka. Dan semoga acara ini menjadi awal dari kegiatan-kegiatan seru selanjutnya antara organisasi Jamaah Masjid dan Gereja.

“Saya cukup kaget, tidak mudah mengatur mereka, membuat mereka konsentrasi fokus dalam waktu beberapa jam, belum pernah terjadi, tapi hari ini saya lihat mereka bisa konsentrasi mengikuti alur acara ini. Saya kaget”. Kira kira begitu penuturan kepala asrama pengungsi di Dornbusch. Apresiasi setinggi tingginya untuk semua pihak yg telah membantu kegiatan ini hingga terlaksana.

Oleh Syifa Maisani Lestari
Koordinator Divisi Muslimah Masjid Indonesia

Tinggalkan Balasan

1 comment

  1. Sebaik baik manusia adalah yg bermanfaat bagi sesama…….. Do the best