Pengajian Oktober: Urgensi Mengetahui Diri Sendiri
25. Oktober 2017
0

Hari itu Minggu, 22 Oktober 2017, Masjid Indonesia mulai ramai dipenuhi oleh jamaah Masjid. Sekitar tujuh puluh orang cukup untuk membuat ruang Masjid padat. Ya, hari itu memang spesial, karena di Masjid tengah diadakan Pengajian rutin bulanan. Spesial karena narasumber Pengajian jauh datang dari tanah air dan beliau adalah seorang dokter bedah ahli yang pulang ke tanah air untuk turut membesarkan dunia kedokteran Indonesia, walau di Jerman beliau memiliki posisi yang juga sangat dihormati. Beliau adalah Prof. Dr. med. H. Rasjid Soeparwata. Beliau merupakan dokter ahli bedah jantung dan pembuluh darah yang juga merupakan tokoh penting Muhammadiyah di Jerman.

Alumni Justus Liebig Universität Giessen tersebut meningatkan kepada seluruh jamaah, bahwa kita harus sering melakukan muhasabah diri. Sebagai manusia, kita patut mengetahui siapakah kita dan perlu menghargai diri kita. Kita tidak bisa menghargai orang lain, bila kita tidak dapat menghargai diri kita sendiri. Kita juga perlu mengetahui apa destinasi kita di kehidupan dunia yang sangatlah singkat.

Ahli bedah Cardiovascular dan Thoracic ini menjelaskan pentingnya seorang manusia mempunyai prinsip kehidupan persis seperti sebuah deret. Beliau mengutarakan konsep A, B, dan C dalam kehidupan. Konsep A dijabarkan oleh narasumber dalam sebuah peribahasa jawa yaitu Adigang, Adigung, Adiguno. Adigang berarti kekuatan. Adigung berarti kekuasaan. Adiguno berarti kepintaran. Peribahasa tersebut bermakna manusia tidak boleh memamerkan dan menyombongkan kelebihan yang ada pada diri manusia (seperti kepintaran, jabatan, kekayaan, dan lain sebagainya). Narasumber berpesan kepada seluruh jamaah untuk melaksanakan amanah dengan baik, tidak pamer kelebihan yang ada dalam diri kita, serta bermanfaat bagi banyak orang sebagai implementasi dari peribahasa tersebut.

Konsep B mudah sekali dilupakan oleh kita, meskipun poin-poin tersebut merupakan kebutuhan dasar manusia kepada Allah Ta’ala. Konsep tersebut dijelaskan dalam 4 poin. Pertama, Kita harus bersyukur atas apa yang diberikan oleh Yang Maha Memberi Rezeki. Kita sering melupakan berbagai rezeki yang diturunkan oleh Allah Azza Wa Jalla seperti keimanan, umur, kesehatan, dan rezeki dalam bentuk harta, jabatan, kepintaran, dan lain sebagainya. Selanjutnya, kita perlu bekerja dengan kemampuan terbaik sebagai bentuk perjuangan kita kepada Allah Azza Wa Jalla. Berikutnya, kita harus banyak berdoa kepada Yang Maha Kuasa. Terakhir, marilah kita bertawakal atas segala upaya kita selama ini.

Konsep C perlu dijadikan kita-kiat menuju sebuah kesuksesan seorang manusia, khususnya yang masih mempunyai masa depan yang masih panjang. Menurut lulusan spesialis bedah umum di Goethe University Frankfurt am Main, 4 prinsip dalam konsep C seharusnya ditanamkan dalam kehidupan seorang manusia, khususnya para jamaah Masjid Indonesia Frankfurt.

Satu, kita harus memiliki konsep hidup. Konsep pada setiap individu menjadi acuan seseorang dalam melangkah di masa sekarang maupun masa depan. Kita perlu bertanya kepada diri masing-masing beberapa hal. Pertama, siapakah diri kita? Kedua, apa tujuan kita? Ketiga, mau kemanakah kita? Terakhir, bagaimana kita mempersiapkan diri kita di masa yang akan datang baik itu di Jerman atau di Indonesia secara jelas.

Dua, setiap manusia wajib mempunyai kompetensi diri. Allah Ta’ala telah menciptakan kita dalam bentuk yang sebaik-baiknya – mengacu pada Surat At-Tin ayat 4 – dengan potensi yang sama dalam berbagai hal, tiada seorang pun yang mempunyai kelebihan maupun kekurangan. Namun, kita perlu menanyakan kembali diri kita, kompetensi apa yang kita ingin peroleh dari diri kita? Bagaimana kita mengembangkan kompetensi pada diri kita masing-masing sesuai dengan konsep yang telah kita rancang.

Lebih lanjut, setiap manusia perlu membuat korelasi dengan sesama manusia. Membentuk korelasi membuat kita bisa berbicara dengan individu lainnya. Dekatnya hubungan antar manusia merupakan inti dari silaturahmi. Dosen Luar Biasa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia sejak tahun 2000 ini mengapresiasi Masjid Indonesia Frankfurt dalam mengadakan pengajian bulanan sebagai wujud nyata dari korelasi dan sebagai wadah persatuan umat Islam dari berbagai kalangan yang ada.

Setelah kita mempunyai konsep hidup, kompetensi diri, dan hubungan antar manusia yang positif dan sangat kuat, seseorang akan mempunyai kapabilitas –InsyaAllah– di kehidupan nyata sebagai prinsip terakhir dalam konsep C. Manusia yang kapabel di kehidupan nyata akan bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga serta lingkungan sekitar.

Pengajian kali ini tidak hanya mendatangkan narasumber spesial dari Munster, melainkan juga menjadi spesial karena dihadiri oleh Kepala Perwakilan RI di Frankfurt, yakni Ibu Wahyu Hersetiati berserta keluarga. Kemudian makin spesial sebab ada sesi syukuran atas dua pasangan yang baru saja menikah bulan yang lalu yaitu pasangan Syifa Maisani Lestari dengan Qi Yahya serta Auliya Ayu Tisnawati dengan Syauqi Dhiya’ul Haq. Besar kontribusi mereka bagi Masjid Indonesia, sehingga masyarakat khusus mengadakan sesi syukuran dan memberikan hadiah bagi kedua mempelai tersebut. Semoga kedua pasangan diberkahi dan menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warahmah.

 

Oleh: Rakan Abyan Kurnia
*Penulis merupakan peminum segelas cokelat panas.

 


Terima Kasih
Terima kasih tak terhingga bagi para dermawan yang telah dan selalu mendukung kegiatan Masjid dengan donasi finansial dan konsumsi untuk kegiatan Masjid. Hanya Allah yang Maha Kaya yang mampu membalas semua kebaikan para dermawan.