Semburat Cahaya Iman di Eropa
26. Agustus 2014
0

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Ingin aku haturkan berjuta rasa syukur karena Allah telah menganugerahkan hal-hal baik dan menakjubkan dalam hidupku. Termasuk salah satu mimpi yang Allah kabulkan, menuntut ilmu di Jerman.

Sejujurnya mimpi yang dari dulu sangat ingin aku raih adalah kuliah di Universitas Al Azhar, Mesir. Tapi takdir berkata lain dan aku tahu, Allah selalu mempunyai rencana terbaik bagi hamba-Nya dan itu adalah kepastian.

Berlin, itu adalah kota pertama yang aku kunjungi. Menakjubkan! Aku langsung jatuh cinta dengan kota yang sangat ramai dan kaya akan sejarah ini. Aah.. Betapa cintanya dengan ibu kota Jerman ini. Kala itu aku belum berstatus sebagai mahasiswi karena harus terlebih dahulu mengikuti Studienkolleg (baca: sekolah penyetaraan) selama 1 tahun. Setelah sekitar 1 bulan tinggal di Berlin, dengan izin Allah aku melanjutkan Studienkolleg di Nordhausen. Rasanya lucu kalau ingat Nordhausen, banyak orang yang aku ajak bicara soal Nordhausen dan banyak yang tidak tahu dimana Nordhausen itu? Bahkan orang Jerman sendiri ada yang tak tahu dimana letaknya?! Kota yang sangat kecil dan sarat akan kenangan. Aku memulai perjuangan di kota ini. Menjadi salah satu murid berhijab di Studienkolleg Nordhausen menjadi anugerah yang sangat indah. Kenapa? Selain guru-gurunya yang sangat strict soal nilai, orang-orang Jerman di Nordhausen juga banyak yang merasa asing dengan keberadaan kami, Ausländer (orang asing).

Aku maklumi, karena kota kecil ini berada di Jerman Timur yang bisa dibilang penduduknya masih kolot dan merasa tak terlalu senang dengan keberadaan orang asing. Entah apa yang ada di benak mereka saat melihat aku dengan hijab dan berwajah oriental? Sangat aneh kah? Hehe. Never mind. Tak mengapa bagi ku, asalkan mereka tidak bertindak anarkis.

Seiring berjalannya waktu, aku merasa bahwa Jerman telah menjadi bagian dari diriku. Orang Jerman dengan sifat cuek mereka kadang membuatku merasa nyaman. Karena dengan begitu, mereka tidak terlalu mempermasalahkan hijab. Kebanyakan dari mereka adalah atheist yang tidak mempercayai eksistensi Tuhan. Aku kadang tak mengerti, apakah itu karena kesombongan mereka atau ketidaktahuan mereka sehingga mereka tidak percaya akan adanya Allah SWT yang menciptakan alam semesta raya? Jujur, aku pun tak memiliki keberanian untuk mendakwahkan secara langsung tentang agama yang sempurna ini, Islam. Aku hanya mencoba untuk memperlakukan mereka dengan sebaik mungkin. Sebagaimana aku ingin mereka memperlakukanku dengan baik.

Walaupun banyak penduduk Jerman yang atheist, tapilain halnya dengan penduduk di kota Aachen. Libur Sommer (musim panas) tahun 2012 aku memutuskan untuk menghabiskan waktu disana. Kesempatan ini aku gunakan untuk menambah pengalaman dengan bekerja part time dan beberapa aktivitas lainnya. Dan saat itu bertepatan dengan bulan Ramadhan. Aachen juga merupakan kota yang memiliki penduduk muslim dari berbagai negara dengan jumlah yang cukup banyak.

Moment Ramadhan kali ini sangat berbeda. Ramadhan pertama tanpa keluarga tercinta.  Rasanya ada haru yang membiru, ada rindu yang menggebu. Sedih memang, melewatkan bulan yang penuh berkah di negeri perantauan sebagai umat Islam yang minoritas. Tapi, benarlah perkataan dalam bahasa Arab ini „Laa tahzan!“ yang artinya JANGAN BERSEDIH. Aku merasa sangat beruntung melalui Ramadhan di kota Aachen. Dan itu aku sadari sewaktu aku mendapatkan tempat yang sangat tepat untuk bermunajat kepada Allah di malam Ramadhan yang syahdu, di Bilal Moschee atau Masjid Bilal.

Masjid yang terletak dekat dengan stasiun kereta api memiliki bangunannya cukup besar. Ini adalah salah satu masjid yang dikelola oleh orang Arab dan imam-imam masjid pun sepertinya keturunan Arab. Aku tak tahu persis dari negeri mana imam-imam masjid berasal, tapi satu hal yang membuat hati selalu tersentuh adalah saat sang imam mulai membacakan ayat-ayat suci Al Qur’an. Tilawah Al Qur’an yang begitu merdu dan syahdu seakan berhasil menentramkan hati dan pikiran. Pertama kali diriku menginjakkan kaki di Masjid Bilal, bacaan sang Imam yang lembut dan syahdu telah berhasil membuat air mataku bercucuran. Entah karena rasa sedih berada jauh dari orang tua atau karena bacaan Al Qur’an yang tartil dan penuh dengan penghayatan. Aku merasa sangat dekat dengan Rabb ku.

Hari berikutnya saat datang ke rumah Allah itu, hati ini kembali merasa ketenangan yang sangat berbeda. Shalat Isya dan Tarawih yang dilaksanakan cukup larut malam membuat suasana hati seperti merasakan ketenangan jiwa yang sangat. Kadang kala sang imam tersendat dalam melantukan ayat-ayat Al Qur’an, kemudian ada makmum laki-laki yang bersahutan membenarkan bacaan imam. Subhanallah.

Hari demi hari berlalu, aku mulai mengamati wanita-wanita yang melaksanakan shalat denganku. Mereka adalah wanita mulia yang mengajarkanku banyak hal. Senyum yang sangat tulus, wajah yang cantik jelita, pelukan hangat yang menenangkan, segala rasa cinta yang tulus itu aku rasakan dengan mereka. Walaupun kami berasal dari negeri yang berbeda-beda, mereka berasal dari Palestina, Mesir, Turki, Marokko, Afghanistan, dan negara-negara mayoritas muslim lain, tapi kami seakan disatukan oleh sebuah ikatan yang sangat kuat, yang akan mengikat rasa kasih sayang kami hingga akhir hayat, tentu saja Ukhuwah Islamiyah. Karena kami adalah saudara seiman. Tidak peduli berasal dari budaya, bangsa, dan bahasa yang berbeda. Banyak hal menakjubkan yang merasuk ke dalam hati saat berinteraksi dengan mereka. Ketulusan mereka adalah salah satu membuat selalu ingin dekat dengan mereka.

Pernah suatu kali, saat sedang wudhu, aku memberanikan diri untuk bertanya kepada salah satu wanita Turki yang begitu jelita, ia selalu mengenakan kerudung yang cukup besar. Kira-kira seperti ini bahasa yang aku utarakan padanya, “Apa saat di kampus kamu selalu menggunakan kerudung itu?“ Tanyaku polos. Dan ia menjawab, “Ya, tidak perlu memperdulikan perkataan orang lain” Subhanallah..

Aku hanya bisa tersentak kagum padanya. Kau tahu kawan? Bukan hal yang mudah berada di negeri minoritas muslim dan menggunakan kerudung yang cukup besar karena kau akan menjadi perhatian bagi mereka yang merasa asing dengan penampilanmu. Tapi dengan pertolongan Allah semua akan baik-baik saja dan semua bisa karena biasa.

Salah satu bangsa yang sangat aku cintai setelah Indonesia adalah bangsa Palestina. Dan aku selalu merasa sangat berbahagia saat bertemu dengan warga Palestina. Aku merasakan desiran keberanian dan ketegaran mereka.  Saat itu setelah kami selesai melaksanakan shalat tarawih, hujan turun dengan derasnya. Dan aku keluar dengan seorang kawan sambil berlarian dari dalam masjid. Kami harus segera pulang karena sudah terlalu malam. Dan tiba-tiba, ada seorang ibu asal Palestina yang memanggil kami dan menawarkan kami untuk menumpang di dalam mobilnya. Sang ibu bermaksud untuk mengantarkan kami sampai ke rumah. Subhanallah.. Kali ini kami tidak bisa menolak karena keadaan yang memaksa. Dan di tengah jalan dengan penuh keakraban kami bercengkrama tentang banyak hal. Ada perkataan beliau yang selalu akan terkenang, beliau berkata “Segalanya bisa dibeli dengan uang. Tapi CINTA, tak akan bisa dibeli dengan uang”. Aku tersenyum dan menyetujui perkataan beliau. Setelah kami sampai di tujuan, beliau mencium pipi dan memeluk kami. Oh ibu… Aku mencintaimu karna Allah.

Pengalaman indah ini bukan hanya sekali. Kala itu kami selesai melaksanakan shalat tarawih sekitar jam 1 malam, aku dan seorang sahabat bergegas untuk segera pulang. Dan lagi-lagi ada wanita Palestina yang menawarkan kami untuk menumpang dengannya. Ya Rabb.. Betapa mulia akhlak mereka… Semoga Allah selalu melimpahkan keberkahan dan kebaikan di dunia dan di akhirat untuk mereka.

Hal lain yang membuatku selalu teringat akan Bilal Moschee adalah dialogku dengan seorang wanita Afghanistan. Iseng sekali aku bertanya padanya tentang cincin yang ia kenakan di jari manisnya. Hehe. Aku mencoba bertanya seramah mungkin, “Kamu berasal dari mana?” Ia berkata, “Dari Afghanistan”. Ia balik bertanya dan aku jawab dari Indonesia.  Lalu aku berkata, “Umur kamu berapa? Kamu sudah menikah yah?“ Dengan wajah santai ia menjawab, “17 tahun. Iya saya sudah menikah”. Subhanallah.. Ternyata dugaanku benar. Kali ini aku yang terkaget-kaget. Aku merasa takjub karena ia masih begitu muda. Baru kali ini aku temui anak muda di Jerman yang telah menikah dan setelah kami mengobrol ternyata ia masih duduk di bangku sekolah. Masya Allah. Bukan hanya itu yang membuatku terkagum padanya, karena ia menikah muda. Tapi alasan ia menikah muda membuatku terharu biru. Saat aku tanyakan alasan ia menikah, padahal ia masih sangat muda. Jawabnya sangat simple karena itu adalah sunnah Rasulullah. Ya Rabbi… Aku merasa malu dan bangga dengan keputusannya. Malu karena aku belum melaksanakan sunnah Nabiku yang mulia. Bangga karena ia telah menyempurnakan separuh agamanya.

Waktu terus berjalan… Ramadhan akan meninggalkan kami dan itu berarti tiba saatnya bagiku untuk meninggalkan Aachen. Sehari sebelum kepulangan ke Nordhausen, aku memutuskan untuk jalan-jalan di salah satu pusat perbelanjaan di tengah kota. Ingin rasanya melepas penat dan melihat untuk terakhir kalinya kota yang meninggalkan berjuta kenangan itu. Saat sedang asyik berjalan-jalan di salah satu toko, tiba-tiba mata terpaku melihat sosok wanita yang sepertinya sudah tidak asing lagi. Dengan nekatnya, aku ikuti ia saat menuju ke lantai bawah dari toko itu. Aku pun bertanya pada salah seorang anaknya apakah itu Zaskia Mecca, lalu anak itu mengiyakan. Wah.. Langsung saja tanpa pikir panjang kaki ini melangkah mendatanginya. Wajah ramah dengan senyum manis menyambut ku. Ia katakan kalau BCL (Bunga Citra Lestari) dan beberapa artis lain sedang shooting film Habibie dan Ainun. Pucuk di cinta ulam pun tiba. Rezeki nomplok macam apa lagi yang Allah berikan pada hamba-Nya?Bergegas aku dan beberapa kawan menyusul ke lokasi kejadian, eh, lokasi shooting yang tak jauh dari tempat kami window shooping. Wajah ini rasanya berbinar-binar dan senang tak terbayangkan. Karena disana ada Mantan Presiden ke-3 RI, Bapak B.J. Habibie.

Sungguh Allah yang Maha Pengatur segalanya.. Niat hati hanya jalan-jalan, tapi dipertemukan dengan seorang Habibie. Saat aku dan teman-teman sampai didepan sebuah  cafe yang konon ada nilai sejarah bagi Bapak Habibie dan Ibu Ainun, kami menunggu sesaat sampai beliau keluar dari cafe tersebut. Dan dengan ramahnya beliau menyambut kami, dengan malu-malu kami meminta untuk berfoto bersama dengan beliau. Salah satu kru mengatakan bahwa mereka akan ada shooting di RWTH Aachen keesokan hari.

Keesokan hari beberapa mahasiswa-mahasiswi Indonesia di Aachen memutuskan untuk menemui beliau sebelum kami kembali ke kota masing-masing. Pagi-pagi sekali kami sudah datang. Setelah menunggu beberapa jam dibarengi melihat shooting Reza Rahardian selaku pemeran Habibie, alhamdulillah Pak Habibie datang ke lokasi. Kami sangat bahagia. Kesempatan ini tidak ingin aku lewatkan untuk bercengkrama dengan beliau. Aku mulai bertanya kepada beliau soal pertanyaan yang cukup ringan, kira-kira seperti ini pertanyaannya, “Bapak… Bagaimana Bapak berjuang di Jerman, kan bapak tahu kalau kuliah disini tidak mudah dan penuh dengan perjuangan?” Beliau memulai pembicaraan dengan mengatakan, “Panggil saya eyang, supaya terdengar akrab”.

Suasana pun makin terasa akrab dan kami antuasias mendengar kisah beliau. Dengan tatapan penuh semangat seakan-akan mengingat-ingat perjuangan dulu, eyang menceritakan saat dimana eyang terserang penyakit yang cukup parah dan harus dirawat di rumah sakit. Eyang menatap mata kami dengan tajam dan aku tak kuasa menahan air mata saat ia ceritakan perjuangan yang pilu itu. Kira-kira seperti ini kata-kata yang eyang sampaikan, “Saya pikir, saya sudah mau mati! Saat itu saya dirawat di rumah sakit. Ada sebuah Al Qur’an di atas meja lalu saya ambil Al-Qur’an dan saya tulis di bagian depan didalamnya sebuah puisi yang berjudul SUMPAHKU.”

Lalu eyang menceritakan isi dari puisi itu tentang sumpah untuk berjuang demi Tanah Air, Indonesia. Aku merasa kagum dengan sosok Habibie. Beliau yang sudah tua tapi masih sangat enerjik dan sangat baik hati. Hal lain yang menurutku harus menjadi panutan bagi kita yang kelak akan menjadi orang tua adalah pernyataan beliau saat aku tanyakan tentang cara orang tua merawat beliau sampai bisa seperti sekarang. Sederhana dan menarik jawaban beliau. “Orang tua saya tidak pernah memukul saya. Kami selalu diskusi, diskusi, dan diskusi. Kalau ada apa-apa selalu kami diskusikan. Dan waktu kecil saya selalu diberi air putih. Air putih sangat baik untuk kecerdasan otak”. Sebenarnya masih banyak pertanyaan yang kami ajukan saat itu, tapi ini adalah yang paling berkesan bagiku.

Pagi yang cerah dan dingin itu menjadi semakin lengkap dengan kehadiran Eyang Habibie yang mengajarkan kami tentang banyak hal. Kisah-kisah yang inspiratif dan semangat juang juga kerja keras beliau patut bagi kita untuk mencontohnya. Karna tiada kesuksesan tanpa usaha. Tentunya harus dibarengi dengan doa.

Sepenggal kisah perjalanan kuliah di Jerman ini semoga membawa banyak manfaat bagi kita semua. Saat ini aku sedang melanjutkan kuliah jurusan Bisnis (Betriebswirtschaftslehre) di Technische Hochschule Mittelhessen (THM), Giessen, Jerman. Semoga Allah selalu memudahkan, memberi keberkahan dan ilmu yang bermanfaat untuk kita. Wallahu a’lam..

Sheyla Lestarini, BWL-Studentin THM Giessen

Tinggalkan Balasan